About

Showing posts with label PESONA JIWA. Show all posts
Showing posts with label PESONA JIWA. Show all posts

Wednesday, June 3, 2015

Merindu Cinta dibalik Senyumanmu

“…… Biarkan Aku Melukis Bayangmu, Karena Semua Mungkin Akan Sirna. Bagai Rembulan Sebelum Fajar Tiba, Kau Selalu Ada Walau Tersimpan Direlung Hati Terdalam……” (Adera)


Pagi menyambut dengan lirih, tampaknya aku terlambat lagi bangun hari ini. Saat beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela, mentari telah meninggi dan seketika menyilaukan mataku yang baru terbuka dengan sinarnya. Hhmmmm.. suasana kota makassar sudah tampak ramai, mereka sibuk dengan  aktivitasnya masing-masing, suara klakson kendaraan pun tak kalah ramainya seakan para pengendera ingin menerobos jalanan dan sampai ke tempat tujuan segera.

Pagi ini saya tak ada rencana untuk pergi kesuatu tempat. Akhir-akhir inipun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Belajar musik, nulis, atau setidaknya cuma main game. Menulis, akhir-akhir ini pikiran itu muncul kembali, selama ini telah banyak cerita yang luput dari coretanku bahkan untuk mencipta ide pun tak ada.

Sunday, October 19, 2014

Peluh

Senja dalam dekapan
merindunya bersama angin yang berhembus merdu
ingin ku titipkan salam pada bintang yang bersembunyi dibalik kegelapan
adakah dia menampakkan sinarnya saat rembulan kian redup

Merindu, seutas kata yang ingin ku sampaikan padanya

Bintang malam ini

Saturday, September 20, 2014

TERDIAM DALAM RINDU

hari berlalu begitu saja tanpa hendak berkata apa-apa..
sedang ku tahu, kalimat itu begitu sederhana.

bagiku, dia adalah mahadewi, namun aku bukanlah lelaki sejati yang berani mengulurkan tangan untuknya, bahkan saat dia jatuh sakit..
aku memilih diam, dan sekali lagi kubiarkan dia berlalu begitu saja..

Tuesday, July 8, 2014

Cinta dan Kepura-puraan

Oleh: Adhy Paturusai
----------------------------------------------------------

“….Aku begitu bahagia bersamamu malam ini, setiap waktu kita lalui bersama.
Aku begitu menyayangimu dan menginginkanmu tuk temani hdupku selamanya.

I Love You dek…”


Lalu dengan pintas engaku menjawab

“… iya, aku juga bahagia karena engaku selalu didekatku, ingin rasanya tetap mendekap tubuhmu.
I Love You Too…”


Lalu malam itu kita memimpikan hidup saat telah menikah, punya anak dan kita merawatnya bersama hingga tua.

Hingga Malaikat Pun Lelah Mencatat Kisah Kita

Makassar, 09 Juli 2014
Oleh: Adhy Paturusai

Lelah telah terbersik dalam jiwaku. Mengejarmu, mencarimu namun tak lagi kutemui. Pandangan tertuju jauh kebelakang saat kita melangkah bersama dan bermimpi untuk hidup bersama. Kebahagian tetap terasa meski tak pernah berlangsung lama. Kembali teringat kisah tahun lalu ketika hubungan kita diselimuti oleh permasalahan yang tak ada hentinya, bahkan kita masih berputar pada permasalahan yang sama hari ini.

Pikirku memaksa untuk melepasmu. Namun, hal ini justru menyakitkan hatiku. Jiwaku begitu menginginkanmu bahkan rela untuk merasakan sakit yang berulang-ulang demi untuk melihatmu kembali. Jiwaku selalu merindukanmu saat kau jauh dari sisiku, hingga dalam keseharian aku memimpikanmu, memimpikan cintamu untuk menemani jiwaku.

Thursday, June 26, 2014

Rindu Terakhir


saat mata ini menyaksikan langkahmu menjauhiku
tak dapat lagi terbayang mimpi yang pernah marajuk harapku

penantian itu telah tergusur oleh lelahku
hanyut dalam derasnya air mata yang membanjiri

Thursday, June 12, 2014

Merindu Dalam Bayangku

 “…….Saat kehilangan cinta sejati, saat itulah kita kehilangan makna. Hidup dalam kekosongan, berjalan dalam kegelapan jiwa. Tapi, kemungkinan takdir tetap ada, walau tak tahu arah kehidupan ini.
Beranjak dan meninggalkan lilin yang telah padam, hanya terdapat cahaya dilangit yang jauh, entah itu bintang yang beruntung mendapat sinar matahari.
Pandangan kembali tertuju jauh dari kondisi saat ini seakan melampaui batas waktu, menerawang tujuan yang semakin dekat namun tetap tak diketahui”.

“Selamat pagi mentari yang terang” sapaku sambil membuka jendela kamar saat beranjak dari tempat tidurku. Tampaknya hari ini merupakan hari yang cerah, beberapa orang terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, bahkan sebagian dari mereka sibuk mengurusi anaknya yang siap berangkat ke sekolah.
Aku melangkah menuruni tangga dari lantai dua, lalu menuju dapur dan seketika keteguk segelas air putih untuk melepas rasa hausku. Gelas yang berisi air kubawa serta menuju ruang tengah sambil membuka beberapa pesan singkat yang masuk diponselku semalam. Ya ya ya… sudah dua minggu berlalu, seakan

Sunday, May 25, 2014

CAHAYA "RUMAH MIMPI"

Makassar, 26 Mei 2014
Kamu masih berada disampingku saat Mentari dari upuk barat mulai tenggelam kala itu, senyum indah dari raut wajahmu pun masih menceriakan hariku, kahangatanmu pun masih aku rasakan saat kau dekap tubuh dan kau sandarkan kepalamu dibahuku. Canda tawa silih berganti melengkapi keceriaan. Begitu bahagia saat kau tawarkan kehidupan bersamaku, kau tawarkan langkah bersama tuk mengarungi sisa kehidupan kita. Pikiranku mengawan jauh tuk menyambut tawaranmu karena itu pun inginku, kuingin ciptakan rumah sederhana untukmu, rumah yang akan menjadi tempat bertedu saat hujan mengguyuri bumi, sekaligus rumah yang akan manjadi persinggahan dan rumah itu pulalah yang akan menjadi saksi saat kita mengukir cerita dibuku tua itu.

Kini mentari itu telah tenggelam dan hanya menyisakan kegelapan, aku tak dapat melihat apapun saat itu, kamu yang selama

Wednesday, March 5, 2014

Kembali Hari Yang Lalu

Akhir-akhir ini dia kembali mewarnai hariku, senyumnya kembali terpancar dari raut wajah indah yang berada tepat dihadapanku. Dia kembali mengisi hari-hariku setalah sekian lama menghilang entah kemana. Hadirnya pun tak kuduga bahkan tak tahu hingga seperti ini, namun tiba-tiba saja dia hadir didekatku.

Hhhhhmmm... dia begitu perhatian, saya mulai curiga, akankah tetap bertahan seperti ini ? karena yang ku tahu, sifatnya yang perhatian seperti ini tak pernah bertahan lama. Ah.. terserah deh, kalaupun dia harus marah kembali, setidaknya jalani saja hari ini.
“Di mana“? Tanya dia lewat pesan singkat
“Di Kampus, sementara ada kuliah..” jawabku
“Ow..”
 itu kan, baru saja saya puji tentang sifatnya yang perhatian, eh.. kembali lagi dia kirim pesan yang singkat sekali...:(

hari sudah sore, setalah pulang kuliah rencana dia mau menemaniku kerumah temannya untuk meminjam

Thursday, January 16, 2014

Rindu

Mentari masih begitu pagi ketika ku terbangun dari tidurku, pagi ini ku harus kekampus karena akan ada kuliah pagi. Manjalani perkuliahan dipagi hari tentunya hal yang tidak kuharapkan apalagi bagi orang yang malas bangun sepertiku. Tapi, kali ini tidak menyurutkan semangatku, bukan karena mata kuliah paforitku bukan pula karena kemampuan dosen yang membuatku terpukau dalam menyampaikan mata kuliah, melainkan karena telah ada spirit dari dalam hatiku yang telah ditanam oleh seorang gadis yang membuatku merindu setiap saat.

“Sepertinya saya berangkat terlalu pagi, ya.. terlalu pagi” bisikku dalam hati. Karena tak satupun teman kelasku yang dating, dan saya menjadi orang pertama masuk dikelas hari ini. Sebuah prestasi buatku kali ini. Hhhmmmm… dialah yang menjadi inspirasiku hari ini dan telah kusampaikan berulang kali kepada tuhan tentang dirinya. Dialah yang kurindukan Tuhan. Dialah yang membuatku tersenyum ketika hati mulai redup.

Thursday, January 9, 2014

Do'a Dalam Sujudku

Dia sangat mencintaiku. Dan saya tak boleh menyia-nyiakannya.. “Tuhan, Jadikan Dia Pasangan yang baik Untukku dan saya sebagai pendamping yang baik untuknya” (do’a dalam setiap sujudku)

Kusandarkarkan tubuhku didinding dalam ruang yang berukuran 3 x 3 yang menjadi istanaku saat ini, sesekali tersenyum dikala ku membayangkan dirinya yang anggung dengan kaca mata yang menambah keindahan raut wajahnya. Cinta, mungkin itulah kata yang menyelimutiku saat ini dan dekapan kerinduan dan kasih sayang darinya.
Meski begitu lelah dengan aktivitas kantor hari ini dan melintasi jalan yang begitu ramai dengan pengendara yang sesekali membuatku marah ketika bunyi klakson bersamaan berteriak menggemparkan jalan sore ini, mereka yang tak sabar seolah memiliki kepentingan yang tak bisa ditinggalkan walau sedetik, kalaupun

Saturday, November 9, 2013

Segelas Kopi Didalam Kerinduan

Aku merindukannya seperti bumi merindukan bintang dimusim hujan. Senandung malam berirama  diantara nada-nada piawai pujangga, berselimut riuh dengung-dengung nyamuk yang berpesta.

Malam itu ketika orang-orang telah nyenyak dalam tidurnya, ketika yang lewat depan rumah hanyalah petugas penjaga malam di kompleks dan yang terdengar hanyalah suara gitar dan nyanyian dari sekelompok pemuda dari lorong sebelah yang mencoba membelah sunyinya malam. Tak satupun bintang yang berani menampakkan dirinya dilangit malam ini bahkan rembulan pun tak seterang biasanya.

Jam kini menunjukkan pukul 01.45, Tak terasa kopi panas yang ada didepanku kini mulai dingin

Monday, October 28, 2013

Tak Lagi Yang Dulu.

Ku duduk di balik dinding yang berukuran 4 x 3 ini. Sebuah batas yang semestinya menyatukan kami namun tak lagi indah seperti yang ku harapkan sebagaimana yang dulu.

Aku selalu mengambil cerminan dari kebahagiaan orang lain, terkadang ku cemburu dengan kemesraan mereka dan kuingin lalui hal seperti itu, tapi itu bukanlah duniaku yang tak semanis yang kuinginkan.

Aku menyayanginya dan begitu berharap untuk dapat hidup bersamanya, tapi dia tak seperti yang dulu, yang

Sunday, October 27, 2013

Mencarimu, Dijalanku

Makassar, 11 oktober 2013

Jalan begitu ramai dengan pengendara sore itu, baik roda dua maupun roda tiga, tampak pula keramaian di halaman gedung pinisi yang merupakan symbol dari kampus universitas negeri Makassar (UNM). Semua sibuk dengan aktivitasnya masing masing meski ada diantara mereka yang hanya duduk tenang di pojok gedung sambil menikmati laju kendaraan yang melintas dijalan Pangeran pettarani.

Sore itu langit tampak cerah tak ada tanda-tanda hujan akan turun sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Melepas Rinduku

Melepasmu, Bagaikan Melepas Hatiku Didalam Tubuhku. Kehilanganmu Seperti Halnya Duniaku Tak Lagi Bersamaku.

Mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan kondisiku saat ini. Betapa sakitnya jika harus kehilangan orang yang begitu kusayangi. Orang yang menjadi penopang hidupku selama ini, orang yang selalu memberiku masukan dan saran ketika ku menemukan jalan buntu. Orang yang menjadi sandaranku dikala aku lemah.

Tak pernah kumenyangkan ternya itu semua hanya bayangan sesaat, dan kini telah berlalu tanpa pesan

Tuesday, June 11, 2013

Pendakian Di Lembah Ramma, Malino


Makassar, 31 mei 2013

 Terima Kasih Untuk Kawan-Kawan Pendidikan Administrasi Perkantoran 2010 Karena Telah Meluangkan Waktu Selama Tiga Hari Untuk Menjajaki Lembah Ramma, Malino.


Setelah beberapa pekan yang lalu kami melaksanakan perjalanan di beberapa kota di jawa kini kami kembali menyusun rencana untuk bersama-sama meninggalkan kepenatan dibalik aktivitas di kota Makassar. Namun rencana kali ini tidak sama sebelumnya, melainkan perjalanan yang lebih ekstrim yaitu melakukan pendakian, dan dibalik kesepakatan itu kami memutuskan untuk menjajaki lembah ramma, malino. Seuatu lembah yang begitu indah dan penposona menurut Capunk Trisula atau dengan panggilan klasiknya “Sule” salah seorang Pengurus MPA Trisulan (Mahasiswa Pecinta Alam Tingkat Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar) sekaligus teman sekelas kami.

Semua peralatan telah kami persiapkan meski menuai banyak kesulitan karena keterbatasan alat yang akan di gunakan karena banyaknya aktivitas yang sama di beberapa mahasiswa pecinta alam. Namun dengan usaha bersama kami berhasil mengumpulkan alat yang dapat dipergunakan selama 3 hari perjalanan, dan juga mendapat kemudahan atas sumbangan mie instan dari saudari selvi novianty yang menjadi konsumsi utama kami di pendakian.

Dengan sepeda motor kami coba kalahkan gelapnya malam dengan rintangan yang berkelok-kelok selama perjalanan karena untuk mencapai daerah malino selain pendakian, juga jalan yang membuat kami putar setir motor kiri kanan. Belum lagi sang Shogun Biru yang ditunggangi Saudara alpen seakan akan mengantuk hingga cahayanya tak dapat menerangi jalan yang berlubang.

Mentari Itu Telah Terbenam


Makassar, 10 Juni 2013

Kebimbangan dan ketidaktahuan arah masih saja menghantui pikiranku, semua terasa tak jelas dan begitu rabun dimataku hanya kendaraan sepeda motor dan roda empat yang berlalu lalang tak jauh dari tempat saya duduk, sangat jelas di jalan A.P Pettarani Makassar kala sore itu.

Namun pada saat yang bersamaan, justru ku merasa pikiranku yang tak karuan entah melayang kemana. Bingung, benar-benar bingung dengan keadaanku sendiri. Tatkala suasa begitu ramai, berada ditengah-tengah teman-teman  bahwak cewe yang dekat denganku, namun saya sendiri tak tahu diriku ada di mana, tak lebih dari jasad kosong diriku saat ini.
Ku ingin sendiri, itulah pilihanku saat ini. Meski terkadang hal itu bukanlah solusi terbaik untuk membawaku pada ketenangan, namun setidaknya tidak mengganggu suasana dari orang-orang disekitarku.

Ku arahkan pandanganku pada upuk barat, tampak matahari dalam kondisi yang sama denganku, tak jauh beda dengan kondisiku saat ini. Hanya terlihat redup dan tak mampu lagi menerangi keceriaan sore ini bahkan setidaknya lebih buruk dariku karena lebih memilih terbenam dibandingkan bertahan untuk memancarkan cahaya indahnya.

Ku coba beralih dari tempat dudukku semula, dengan harapan kondisiku bisa lebih baik, namun ternyata aku salah, tak ada yang berubah, tak ada yang berbeda dari dari tempat yang tadi. Lalu harus kemanan dan

Sore Itu, Hujan Turun


Makassar, 09 Juni 2013

Hari ini bisa saya sebut hari yang lebih baik dari hari kemarin karena sms yang saya tunggu sepekan terakhir akhirnya masuk juga, orang yang sepekan terakhir ini begitu jauh dariku akhirnya datang juga. Rasa kangen kepadanya tentu begitu besar didalam benakku sehingga kami memutuskan untuk bertemu, pertengkaran kecil masih saja terjadi di awal komunikasi kami lewat mobile phone.
Pukul 16.00 kami sepakat untuk bertemu setelah aktivitas kami masing-masing selesai baik kepentingan kampus maupun diluar daripada itu.  Karena akhir-akhir ini memang kami disibukkan dengan beberapa aktivitas sehingga menyebabkan kami lose contact.

Kondisi kampus terkesan biasa saja, dan aktivitas para mahasiswa berjalan normal sebagaimana hari-hari biasanya, semua sibuk dengan urusan mereka, ada yang hanya nongkrong dibawah pohon di taman dengan pembicaraan yang begitu serius dan begitupun yang lain hanya sibuk mengutak-atik komputernya.

Wednesday, June 5, 2013

Novelis Yang Terpinggirkan


Menjadi serorang novelis mungkin menjadi harapan bagi setiap orang, dengan menerbitkan beberapa buku yang siap dinikmati oleh jutaan pembaca. Menulis bukan hanya berusaha menyediakan media bagi para pembaca tetapi lebih kepada proses komunikasi terhadap diri sendiri dan dengan alam sekitar.



Menjadi penulis mungkin terdengar indah bagi kita semua. tetapi tidak ketika harus menjalaninya. Ya... menjadi penulis sungguh tidak menyenangkan, bukan karena harus menjadi pembaca atau kutu buku terlebih dahulu tetapi lebih kepada pengingatan kembali dari beberapa kenangan termasuk yang begitu menyedihkan. Terkadang kita harus lari dari keramaian dan memilih menyendiri. bahkan kita harus menerima

Tuesday, June 4, 2013

Hari ini, Bukanlah Hari Yang Indah

Makassar, 04 Juni 2013
setalah menjalani aktivitas  perkuliahan hari ini, dan ku coba pikirkan untuk aktivitas selanjutnya. tak seperti biasanya, tak ada agenda penting hari ini, tak ada pertemuan yang harus dihadiri. ku merasakan diri ini layaknya air yang mengalir dari hulu sampai hilir, tak ada yang istimewa, bahkan ku hanya patung hidup yang hanya digerakkan oleh alam. Ya.. layaknya seperti patung yang tak memiliki kemampuan untuk memikirkan langkah sendiri..

Sore ini dibalik kebimbangan ku coba hibur diriku dengan aktivitas yang hampir setiap hari kulakukan yaitu mengutak atik internet, mulai dari facebookan sampai mengedit tulisan di blog pribadiku. 

Tapi itu tak mampu mengembalikan jiwaku yang hilang, aku hanyalah jasad dengan jiwa yang kosong. Aku hanya ingin sendiri, menepi dabalik keramaian para mahasiswa dikampus sore itu. 

Kulangkahkan kakiku meski tak tahu arah entah kemana. Jujur, aku tak tahu entah kemana. ku hanya bisa melangkah dan terus melangkah hingga dari kejauhan terlihan kemewahan bangunan yang berdiri kokoh ditengah
 

Total Pageviews

Pages